Sabtu, 28 Maret 2009

Di Mana Mengasah Kecerdasan Finansial ?



MARSUDI KANG

Pendidikan skolastik dan profesional tidak mengajarkan kitab cerdas secara finansial. Kita belajar akunting di sana. Namun kita disiapkan untuk jadi book-keeper bagi aset-aset orang lain. Kita tidak belajar untuk mengembangbiakkan aset sendiri. Para guru dan dosen mengajari kita bekerja untuk mencari uang, bukan menciptakan uang. Di sekolah, kita belajar menjadi pegawai yang baik, taat, loyal, dan produktif. Di kampus, kita dipersiapkan menjadi sekrup-sekrup dari mesin uap milik orang lain. Di berbagai kursus, terang-terangan kita dilatih bekerja untuk orang lain. Tak satu pun yang mengajari kita bebas secara finansial. Itulah kelemahan sistem pendidikan kita sekarang.

Tapi, hanya karena sekolah tidak menyediakan tempat bagi kecerdasan finansial di dalam kurikulum, apakah kita lantas tidak mengajarinya ? Kita harus tetap mempelajarinya. Mungkin secara langsung di dunia nyata. Mungkin juga kita mempelajarinya secara empirik, dengan pengalaman konkret. Atau, mungkin kita bisa memetik pelajaran dari pengalaman orang lain, entah pengalaman gagal atau sukses.

Belajar dari Dunia Nyata

Banyak orang cerdas secara finansial setelah bertahun-tahun berkecimpung di alam nyata. Mereka tahu nikmatnya passive income, lantas terus mencoba meningkatkan aset produktif untuk memperbesar pipa saluran kekayaan. Mungkin awalnya tidak sengaja, tetapi setelah berhasil menemukan polanya, mereka menjadi ketagihan. Memang, tidak semua pengalaman itu manis. Ada pula yang harus lebih dulu jatuh bangun dan babak belur, sebelum akhirnya bisa membalikkan kegagalan menjadi kesuksesan. Walaupun harus jatuh bangun terlebih dahulu, mereka masih lebih mendingan dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya.

Para pemilik bisnis (business owner) dari berbagai perusahaan yang arus kasnya positif, pemilik property yang disewakan, pemilik mobil atau barang-barang lain yang disewakan; mungkin saja merupakan orang-orang yang mempelajari kecerdasan finansial dari tindakan nyata mereka sehari-hari. Mereka bertransaksi, menjual, membeli, dan melakukan dealing setiap saat. Kadang-kadang rugi. Itu biasa. Asalkan saja secara keseluruhan, arus kasnya masih positif. Mereka pun akhirnya mampu mengompensasi kerugian d satu transaksi dengan keuntungan pada transaksi lain. Mereka menggunakan pola trial and error, atau learning by doing untuk membangun kecerdasan finansial mereka. Nilai plusnya, mereka benar-benar bisa merasakan dan menghayati proses yang sedang dilakukan. Negatifnya, tentu saja, harus menanggung learning cost yang tidak kecil.

Belajar dari Menthor

Lebih cerdas dari kelompok pertama yang menggunakan pola trial and error. Kelompok yang kedua ini secara konseptual sudah memahami prinsip-prinsip kecerdasan finansial. Mereka hanya membutuhkan contoh nyata, yaitu seseorang yang mereka kenal, yang bisa berinterkasi langsung. Sangat mungkin, seseorang itu adalah teman dekatnya, saudaranya, orang tuanya, atau orang-orang dalam inner cycle-nya.

Belajar dari menthor, memang bisa mengeliminasi kemungkinan gagal. Setidaknya, ada yang bias diajak ngomong kalau mau bermanuver membeli atau menjual aset. Ada yang memberi petunjuk-petunjuk berdasarkan pengalaman nyata. Namun di sisi lain, belajar langsung dari menthor juga ada ruginya. Yang paling riskan adalah besar kemungkinan murid yang meng-copy sang guru. Entah strateginya, way of life, maupun nilai-nilai dalam berbisnis. Tidak menjadi soal kalau yang ditiru merupakan sosok yang sempurna luar dalam (cerdas sekaligus etis). Tapi bagaimana kalau sang guru ternyata suka berperilaku tidak etis dalam berbisnis, walaupun memang dia cerdas luar biasa ? Hal lain yang harus diperhitungkan adalah besarnya kemungkinan untuk menjadi follower seumur hidup. Sehingga tidak berani untuk menerapkan ide-ide orisinal sendiri, atau kurang percaya diri untuk bersikap kreatif. Padahal, perubahan yang kian cepat menuntut kita untuk selalu kreatif dan lebih kreatif lagi.

Belajar dari Ahlinya

Anda bisa belajar dari kursus-kursus singkat menganai kecerdasan finansial. Anda bisa mengikuti short course, training atau seminar mengenai bagaimana meraih kebebasan finansial dalam waktu singkat. Anda bias berinteraksi langsung dengan sang pembicara, yang mungkin saja merupakan pemotivasi terkenal, atau pakar di bidang ilmu menjadi kaya. Keuntungannya, Anda bisa berdialog langsung dengan mereka. Anda bisa menyerap ilmunya. Anda bisa tertular motivasinya yang meledak-ledak. Anda akan tergerak untuk melakukan hal yang sama persis seperti yang disarankan oleh sang pembicara. Bukanlah semangat adalah satu jenis ”virus” yang menular ? Ruginya, sang pembicara tidak terfokus pada diri Anda. Ada ratusan peserta seminar lain. Sang ahli hanya mencoba merumuskan resep yang bersifat generik. Padahal, penerapan berbagai strategi finansial harus mempertimbangkan karakter khusus masing-masing orang. Jadi belum tentu apa yang dibicarakan sang pembicara secara berapi-api itu bisa Anda lakukan secara sempurna. Kelemahan lainnya, tidak semua pakar benar-beanr mampu menerapkan teorinya dalam praktik. Banyak pakar atau pengamat bisnis yang tak becus mengelola perusahaan. Banyak pula penasihat financial yang hidupnya justru terbelit utang. Jadi, berhati-hatilah.

Belajar dari Buku

Anda bisa juga belajar dari buku. Belakangan ini banyak buku beredar mengenai kecerdasan finansial. Para penulis menyajikan berbagai resep, rumus, dan kiat praktis. Baik dengan gaya bahasa simpel parktis dan mudah dicerna, sampai kalimat-kalimat akademis yang sulit dimengerti. Dari uraian dengan kosa kata sehari-hari yang gampang dikunyah, sampai rumus-rumus dan angka yang rumit seperti rumus bikin bom nuklir.

Seperti halnya ikut seminar atau training tentang pengelolaan kekayaan pribadi, belaajr dari buku juga banyak kelemahannya. Teori dan trik yang ada di buku, kadang-kadang tidak realistis. Apalagi jika ditulis oleh penulis asing, yang memiliki pengalaman nyata di luar negeri. Sebab, dunia bisnis dan perekonomian di Indonesia memiliki corak yang berbeda dengan (katakanlah) Amerika Serikat. Policy ekonominya beda, inflasi dan suku bunganya beda, dan perilaku masyarakatnya (sebagai subyek bisnis dan ekonomi) jelas sangat beda.

Lakukan Sekarang !

Cermati bagaimana uang diciptakan. Amati bagaimana aset berpindah tangan. Seraplah ilmu mengenai kecerdasan finansial. Entah melalui pengalaman nyata, pola menthoring, menyerap ilmu sang guru, atau membaca buku; yang jelas, ada banyak cara untuk mengasah kecerdasan finansial Anda.

Yang lebih penting adalah : LAKUKAN SEKARANG !

Selasa, 24 Februari 2009

kecerdasan financial


Apakah Kecerdasan
Finansial Bisa Dipelajari ?


MARSUDI KANG

Apakah kecerdasan finansial lebih menyerupai bakat atau pembawaan sejak lahir ? Kecerdasan finansial bukanlah bakat. kecerdasan finansial bisa dipelajari, bisa diasah, disempurnakan, dipertajam terus-menerus. Jika tidak diasah terus, ia akan cepat usang.
Apakah kecerdasan finansial semata-mata hanya berfokus pada uang ? Tidak. Kecerdasan financial sesungguhnya berfokus pada manusia. It’s not about money, it’s about people.

Sebelum menempa diri menjadi cerdas secara finansial, Anda harus memiliki tujuan yang jelas. Berikut ini daftar tujuan wajar yang bisa Anda gunakan :

-Ingin  menikmati masa tua yang mudah, dan tidak membebani anak-cucu. (Cita-cita yang sangat wajar dan manusiawi).
-Ingin bebas secara finansial. (Dalam arti : bisa memenuhi kebutuhan hidup normal tanpa harus bekerja secara fisik).
-Ingin  Menjadi kaya. (Memiliki banyak aset yang produktif).
-Ingin Bisa menolong orang lain. (Percuma menjadi kaya tetapi tidak bermanfaat bagi orang lain).
-Ingin membahagiakan keluarga. (Tujuan yang mulia dan sangat wajar).

Semua itu adalah contoh tujuan-tujuan yang jelas dan cukup spesifik. Yang perlu dicatat, kecerdasan finansial adalah senjata yang akan merusak jika berada di tangan orang yang salah. Jadi Anda tidak boleh memiliki tujuan yang buruk. Tema finansial bukan semata-mata dunia rasional, melainkan normatif. Kekayaan yang akan menjadi mulia kalau ditujukan untuk sesuatu yang positif bagi umat manusia.

Persepsi Mengenai Uang

Perbaharuilah persepsi mengenai uang. Uang bukan segalanya. Kita bekerja bukan semata-mata demi mendapatkan uang. Kita bekerja untuk melayani sesama. Kita bekerja, berpikir, bertindak, untuk kebaikan bersama. Uang adalah konsekuensi. Kalau kita bekerja dengan baik, berdasarkan tujuan yang baik, maka hasilnya akan baik pula.
Uang bukan tujuan. Uang adalah sarana mencapai tujuan. Yang terpenting adalah apakah Anda memiliki Rp 1 miliar saat ini, melainkan apa yang Anda akan lakukan dengan uang Rp 1 miliar (kalau uang itu sudah benar-benar di tangan Anda). 90% orang merencanakan hal-hal konsumtif begitu mendapatkan Rp 1 miliar tunai. Mereka berpikir tentang liburan mewah di eropa, naik kapal pesiar, mobil mewah, busana rancangan desainer, pesta, dll. Jarang yang punya rencana untuk membagi dua uang tersebut: separuh untuk beramal, dan sisanya sebagai modal kerja.

Persepsi Mengenai Bekerja

Anda juga harus mengubah persepsi mengenai bekerja. Sekali lagi, bekerja jangan untuk cari uang. Uang adalah konsekuensi. Bekerja adalah menciptakan nilai tambah yang bermanfaat bagi semua pihak. Bagi diri Anda sendiri, bekerja adalah belajar. Di mana pun Anda bekerja, pasti ada sistem di mana uang diciptakan. Nah, pelajarilah sistem itu. Jadi, kelak Anda bekerja tidak untuk mencari uang, tetapi menciptakan uang.

Antusiasme

Menjadi kaya dan bebas secara finansial merupakan perjalanan panjang tak kenal henti. Ibarat seorang pelari marathon, Anda memerlukan langkah-langkah konsisten dalam jangka panjang. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi kaya. Disinilah antusiasme berperan penting. Anda harus memelihara antusiasme tersebut dalam jangka panjang. Jangan pernah kehilangan gairah. Hanya dengan rasa ketertarikan yang tinggi, rasa ingin tahu yang begitu besar, Anda bisa menemukan suatu cara mengakumulasikan aset yang efektif.

Kesenangan Belajar

Mengasah kecerdasan finansial membutuhkan kesenangan belajar terus-menerus. Jagalah agar kesenangan itu tidak menguap. Selalu menggali hal-hal baru, cara baru, mencari tahu tentang fenomena baru, adalah hal-hal yang bisa mengasah terus kecerdasan Anda. Teruslah berpikir mengenai cara Anda berpikir. Dunia berubah, perilaku manusia juga terus berubah. Kalau kita percaya bahwa kecerdasan financial adalah sesuatu yang menyangkut perilaku manusia, maka tidak ada ruang sedikit pun untuk mengistirahatkan otak. Kecerdasan finansial bukanlah berapa aset yang telah Anda akumulasi. melainkan seberapa canggih cara yang Anda temukan, sistem yang Anda bangun, dan pola berpikir yang Anda terapkan.

Minggu, 22 Februari 2009

jika anda mau investasi


menurut saya jika kita mau investasi dimana saja ,baik saham ,property ,gold ,forex ,options,komoditi,index dll
1. kita musti belajar dulu supaya kita tahu resiko dan keuntungannya dan bagaimana tindakan kita jika investasi kita salah posisi ,kapan masuk kapan keluar ,tahu mengapa kita invest di A atau di B .
2. musti belajar menganalisa baik secara fundamental atu secara technical analysis
3.musti belajar money managemen
4.musti belajar psikologi nya baik sebagai investor atau sebagai trader
5. musti baca buku ttg investasi yang kita inginkan minimal 5 buku
6.rajin ikut forum yang sesuai
7.dan harus belajar dari yang terbaik
8. kita musti punya prinsip jika kalah kalah sedikit jika menang menang banyak
9.sadar bahwa suatu investasi akan untung disatu masa dan bisa rugi dimasa lain ,artinya tiap investasi ada musimnya
10.selalu gunakan uang ngangur / jika rugi ga bikin miskin atau diputus pacar ha ha (ini soal managemen uang buat trading)

kalau minat main saham
ada berapa buku yang bagus
1.Jurus Cuan Investasi Saham tulisan desmond wira
2.Berinvestasi di Bursa Saham oleh: T. Dominic H.
3.Kaya dan Pinter Jadi Trader & Investor Saham oleh: Ir. Gregorius Sihombing, MM
4.Kiat Bermain Saham oleh Surono Subekti
5.Kiat Jitu Peramalan Saham: Panduan menganalisis harga saham untuk memperoleh keuntungan maksimal
oleh: Arief Habib
6.Membaca Saham-Panduan Dasar Seni Berinfestasi+Teori Permainan Saham oleh: Ali Arifin
7.Menilai Harga Wajar Saham oleh: Andy Porman Tambunan
8.CARA BENAR MENCAPAI PUNCAK KEMAKMURAN FINANSIAL A LA ROBERT T. KIYOSAKI oleh sawiji widoatmojo
9.cara cepat mulai investasi saham oleh sawiji widoatmojo
10technical analysis for mega profit oleh edianto ong
11.how to make money in stocks oleh william J O'neil penerbit andi (bhs indonesia)
12.when to buy and sell oleh santo vibby
13.smart investment oleh lie charlie
14.strategi memenangkan transaksi saham di bursa oleh dr adler hayman manurung CHFC RFC
15.profesional investing oleh sawiji widoatmodjo
16.the master trader adi ardiyan gramedia
17 kiat membangun aset kekayaan sapto rahardjo
18.solusi investasi di bursa saham indonesia oleh hendra syamsir
19.jual saham anda lebih mahal oleh santo vibby
10.tecnical anlysis oleh Gerald Apple
11.BREAKTHROUGHS IN TECHNICAL ANALYSIS oleh david keller
12.yang bahasa ingris come to my trading room dan Trading for a Living: Psychology, Trading Tactics, Money Management oleh alexander elder
13 .dll

Sabtu, 14 Februari 2009

beli rumah dengan uang sedikit bahkan gratis


RAHASIA TELAH DIBUKA
dan anda orang yang beruntung menemukannya


"Belilah properti (rumah, kos, apartemen, ruko, rukan) SEKARANG JUGA, berapa pun uang anda saat ini. Jangan menunda sampai anda punya uang cukup, karena selain kelamaan..... pertumbuhan uang anda tidak akan mengejar kenaikan harga properti yang akan anda beli"
karena itu....
Saya akan mengungkap RAHASIA yang telah mengubah kehidupan banyak orang, karena mendadak jadi milyader dengan membeli properti tanpa modal, bahkan mendapatkan passive income puluhan juta setiap bulan...

mau tahu klik saja
http://tinyurl.com/d97bzz

Senin, 02 Februari 2009

The 20 Golden Rules


The 20 Golden Rules of Investment dengan interpretasinya

Investing your own money is a complicated and potentially dangerous business.
One slip in the tricky world of stocks and shares can prove very costly.
So Times Money offers a guide on how to survive and profit in the investment jungle.

1) Buy low; sell high. (beli harga obral)


2) Don't chase performance. If you like a stock or fund, buy on the dips.
(jangan jadi Oneng yang membeli karena harga lagi rally)


3) Run your winners. In other words let your profts roll up and
don't be in too much of a hurry to kiss goodbye to your best-performing investments.
( jangan sampai terlalu cepat melakukan ciuman perpisahan kepada saham-saham pemenang)


4) Cut your losses before they become excessive.
(meskipun maksudnya berinvestasi, jangan sampai kerugian dibiarkan berlarut-larut.
Adam Khoo investor kondang Singapura membatasinya sampai 20%)


5) Never get too attached to a share or a fund. As the late Sir John Harvey Jones once said:
"You sometimes have to kill your favourite children."
(jangan jatuh cinta kepada sebuah saham. Banyak yang jatuh cinta ke BUMI
sampai mau-maunya sehidup semati degan saham yang bersangkutan
dan akhirnya bengong karena saham ini dan saudara-saudaranya dikeluarkan dari kelompok LQ45)


6) In general, think long-term. As Warren Buffett,
the great US investor once said:
"Never buy a stock unless you would be happy with it if the stock exchange
closed down for the next 10 years."
(WB bilang belilah saham yang kalau sampai Wall Sreet atau BEI tutup,
kita masih merasa bahagia memiliki saham tersebut)


7) But don't let that stop you reviewing your portfolio regularly.
You need to check that your portfolio is properly balanced. (monitor dengan baik)


8) Reinvest your dividends.
The power of compounding your reinvested share or fund dividends
makes a massive difference to your overall return.
(coba hitung jika dividen yang diperoleh diinvestasikan kembali
dengan hitungan bunga berbunga dengan persentase tertentu)



9) Don't put all your eggs in one basket.
If you had had all your money in tech stocks in March 2000
you would probably have had about 90 per cent of the value of your portfolio
wiped out over the next couple of years. (jangan menaruh telur di satu keranjang)



10) Although it makes sense to hold shares for the long term you don't necessarily
want to hold them forever. In the end shares are for buying and selling not for
buying and forgetting about.
(jangan mentang-mentang melakukan investasi lalu nggak pernah menjualnya meskipun harganya turun)


11) To that end make sure you spend as much time thinking about
selling shares as you do about buying them. Most investors neglect this vital discipline.
(jangan lupa memikirkan kapan waktunya menjual.
Hali ini banyak dilupakan. Selalu yang difikir adalah bei, beli dan beli.
Keuntungan akan diperoleh jika kita telah menjualnya)




12) Make sensible use of tax-privileged investment vehicles
such as pensions and Individual Savings Accounts (Isas)
but never let the tax tail wag the investment dog.



13) If you don't understand how a particular investment works it's
probably not a good idea to put money into it.
(jangan berinvestasi jika nggak ngerti ilmunya)


14) Don't be afraid to ask the `what if' question.
In the late 1990s many investors bought supposedly `low risk' savings products
linked to the performance of the stock market. Few asked what would happen if
the stock market fell off a cliff, as it did from 2000 onwards,
slashing the value of the so-called `precipice bonds'.
(malu bertanya sesat dijalan)



15) Be flexible and don't back yourself into a corner.
If you bought a stock for 500p and it's now languising at 50p,
don't stubbornly hold on to it indefinitely in the misguided belief that
it's bound to recover to 500p - it may never do so.
(kalau kita beli diharga 500 dan sampai saat ini kita mash memegangnya
meskipun harganya telah menjadi 50 dengan harapan harga kembali, mungkinkah itu?)


16) Don't be afraid to go against the crowd -
some of the most successful investors have been contrarian investors.
(Jangan takut untuk bertindak bertentangan dengan kebanyakan orang))


17) Never be influenced by `special offers' such as the discounts
sometimes advertised by fund groups for purchasing funds within a specific time.
It's much better to buy the right fund than to get a few pounds
knocked off the purchase price of the wrong fund. ( jangan jadi korba iklan)


18) Ignore all stock market `tips',
whether offered in the workplace or at the nineteenth hole
of the local golf course. Remember the old stock market
adage that "where there's a tip there's a tap".
(Percaya kepada diri sendiri – termasuk jangan percaya kepada tips nya ER)


19) Never get too carried away by investment euphoria,
whether for stocks and shares or bricks and mortar - nothing goes up for ever.
(merurut saya kalimat ini berbicara tentang siklus)

20) Remember that if something looks too good to be true - it probably is.
(memang demikian lah adanya. Yang bagus itu mesti selalu dibilang bagus)

Soeratman Doerachman

ER
http://www.j-club.biz/v8/

Senin, 29 Desember 2008

Peluang Investasi di Tahun 2009





Peluang Investasi di Tahun 2009

MARSUDHI KANG

Tak terasa tahun 2008 hampir berakhir. Ada beberapa program yang berjalan sesuai harapan, namun ada juga yang meleset dari target. Krisis keuangan global yang dipicu oleh kasus subprime mortgage barangkali hampir tak pernah terlintas dari pikiran kita semua. Apa mau dikata, gelombang krisis melanda hampir seluruh penjuru dunia. Banyak yang gugur berjatuhan tapi tak sedikit juga yang bisa memanfaatkan momentum untuk meraih keuntungan.

Di Amerika, sesaat lagi Barack Obama akan dilantik menjadi presiden. Beliau memang sosok yang dicintai terutama dari sisi perdamaian, persamaan hak, dan antiperang. Namun bukan berarti hal yang mudah untuk memperbaiki perekonomian Amerika yang telanjur carut marut. Sementara di Indonesia, pemilihan umum hanya tinggal menghitung hari. Orang bilang Indonesia sudah jauh lebih mantap dan dewasa dalam hal demokrasi. Ada yang bilang tahun 2009-2010 mungkin akan menjadi titik terparah resesi ini.

Lalu, strategi investasi apa yang manjur untuk tahun depan?

Ubah Mindset Anda

Kekayaan, sekali lagi, bukan soal seberapa besar penghasilan Anda—-melainkan seberapa besar Anda bisa menabung dan menyisihkannya untuk berinvestasi. Seseorang dengan gaji Rp 10 juta dengan pengeluaran Rp 9 juta per bulan tak lebih baik dari mereka yang bergaji hanya Rp 3 juta tapi bisa menyisihkan Rp 1,5 juta per bulannya untuk berinvestasi. Karenanya, sebelum merencanakan investasi Anda di tahun 2009, cek kembali cashflow Anda tiap bulannya.

Tentu saja ada banyak yang bisa dihemat demi menambah pundi investasi Anda. Salah satunya adalah kurangi konsumsi dan belanja kartu kredit (yang berbunga sangat tinggi). Saya misalnya, lebih suka membayar tunai daripada secara gesek karena ada rasa “sayang” ketika harus mengeluarkan uang. Hal ini bisa membuat saya lebih hati-hati ketika berbelanja. Di sisi lain, Anda juga perlu menyisihkan sebagian dana untuk cadangan (emergency fund) di tempat yang aman dan likuid. Tentu kita tidak mengharapkan hal buruk terjadi, namun tidak ada salahnya sedia payung sebelum hujan.

Kencangkan Ikat Pinggang

Di Amerika sedang ngetren One Dollar Diet Project, tentang sepasang guru sekolah yang mencoba untuk hidup (makan) hanya dengan US$1 per hari. Beritanya sudah dimuat di media terkemuka seperti New York Times dan majalah People hingga ditayangkan di Fox dan Oprah Winfrey show. Ide ini menarik karena ternyata menghabiskan uang lebih sedikit tidak selalu berarti mengorbankan citarasa dan kesehatan sebuah menu.

Sekitar 200 tahun lalu Benjamin Franklin berujar, “If you would be wealthy, think of saving as well as getting.” When you earn a dollar, try to save a minimum of 20 cents—-barangkali itulah salah satu nasihat terbaik untuk meraih kebebasan finansial. Sederhana diucapkan tapi tak pernah mudah dipraktekkan. Mengabaikan ponsel baru yang gencar diiklankan atau teman yang pamer gonta-ganti kendaraan, jelas bukan pekerjaan yang gampang. Itulah mengapa persentase orang kaya jauh lebih kecil daripada mereka yang biasa-biasa saja.

Lebih Rasional

Tahun 2009 nanti selayaknya dimulai dengan perencanaan keuangan yang lebih hati-hati. Program di tahun ini yang terbukti sukses, bisa terus dilanjutkan. Tentu ada baiknya untuk tidak melulu fokus pada jangka pendek, tetapi lebih diarahkan untuk jangka panjang. Leonardo da Vinci bilang, “Simplicity is the ultimate sophistication.” Saya rasa hal ini berlaku juga di bidang investasi. Sederhanakan segalanya sehingga mudah bagi Anda untuk mengendalikannya karena semua masih berada dalam jangkauan.

Mulai saat ini Anda juga harus lebih peduli terhadap hal-hal remeh yang sering terlupakan. Misalnya, kalau Anda berinvestasi dalam reksadana, perhatikan baik-baik operating expenses, komisi penjualan, turnover costs yang tersembunyi, hingga soal pajak. Kalau Anda berinvestasi dalam saham, ada baiknya untuk memperhatikan tingkat turnover Anda termasuk komisi broker dan pajak (capital gain) yang harus dibayar. Siapa tahu masih ada banyak pos-pos yang sebetulnya bisa Anda perbaiki lagi.

Lebih Hati-hati

Situasi krisis di satu sisi membuat orang jadi buta dan kalap—-peluang apapun langsung disambar. Di sisi lain, greed ini seringkali dimanfaatkan oleh sebagian orang yang oportunis dan mencoba mengambil kesempatan. Saya berani bertaruh bahwa tahun depan pasti lebih banyak lagi berita-berita tentang penipuan berkedok investasi dan sejenisnya. Oleh karenanya, berhati-hatilah sebelum Anda menempatkan investasi Anda.

Jangan malas untuk membaca prospektus suatu investasi atau mencari informasi yang diperlukan bila ada hal-hal yang Anda kurang paham. Hal ini memang melelahkan (dan membosankan). Tapi percayalah, jauh lebih baik menghabiskan sedikit waktu untuk belajar daripada kehilangan uang gara-gara kecerobohan Anda sendiri. Lagipula, belajar sesuatu yang baru (seperti soal investasi dan keuangan) tak pernah ada ruginya, bukan?

Saham, Obligasi, Reksadana?

Kemana harus menaruh dana di tahun 2009? Ini jelas bukan pertanyaan mudah. Deposito masih dijamin pemerintah (LPS) hanya sebesar suku bunga 10%. Artinya, deposito hanya tempat untuk memarkir uang sementara, bukan untuk mengharap return. Kalau Anda tertarik, Obligasi Ritel Indonesia (ORI) juga boleh dilirik. Return yang ditawarkan mungkin hanya berkisar 12-14% namun risiko gagal bayarnya (nyaris) tidak ada. Namun return sebesar itu bagi sebagian orang kurang menarik karena belum mengkompensasi risiko inflasi.

Pilihan saya (disclaimer) ada di saham. Saat ini banyak emiten bagus yang harga sahamnya terdiskon cukup lumayan. Ada beberapa jagoan sektor perbankan, infrastruktur, consumer goods, manufaktur, dan telekomunikasi yang bisa dilirik. Kalau Anda punya amunisi lebih, tak ada salahnya mengambil saham-saham berbasis komoditas untuk jangka panjang selagi harganya masih relatif murah. Kalau diparingi (diberi) rejeki berlebih, saya ingin masuk ke properti di tahun depan.

Diversifikasi (Lagi)

Aturannya sederhana: makin “soft” suatu aset, maka akan makin mudah harganya dipermainkan; begitu juga sebaliknya. Inilah yang terjadi saat ini. Harga saham bisa diputarbalikkan dengan mudah, kurs mata uang naik turun seenaknya sendiri, reksadana dibanting harganya hingga tak lebih dari separonya. Di tengah situasi yang tak menentu, ada baiknya Anda mendiversifikasikan sebagian kekayaan Anda dalam bentuk hard asset seperti tanah (properti), logam mulia, atau barang-barang koleksi.

Jaman serba susah seperti ini juga bukan berarti haram bila Anda tertarik untuk terjun ke bisnis (sektor riil). Risiko tentu saja ada, namun bisa diminimalkan dengan masuk ke sektor-sektor usaha yang kebal krisis seperti makanan atau kelontong misalnya. Keuntungan lainnya, bank-bank sedang menurunkan suku bunga kreditnya. Ini bisa jadi kesempatan bagus untuk mendapatkan pinjaman produktif yang berbiaya (relatif) rendah.

Sound Financial Lifestyle

John Bogle, pakar investasi terkemuka, berpesan, “Choose a sound financial lifestyle. Start early and invest regularly. Know what you’re buying. Preserve your buying power. Keep costs and taxes low. Diversify your portfolio.” Investor yang mengikuti nasihat tersebut terbukti bisa mendapatkan return yang lumayan kendati situasi pasar begitu turbulen. Kebiasaan-kebiasaan kecil semacam itulah yang kelak akan menyumbang kesuksesan investasi kita.

Lagi-lagi, investasi membutuhkan perencanaan yang matang, komitmen yang kuat, kesabaran, serta wawasan yang berorientasi jangka panjang. Tapi itu semua juga belum tentu menjamin kesuksesan investasi Anda. Yang bisa kita perbuat hanya berencana dan berusaha sebaik kita mampu sembari tetap rendah hati dan bijak dalam melangkah. Selebihnya, serahkan pada yang di atas. Dan jangan lupa, dermakan sebagian keuntungan investasi Anda bagi mereka yang membutuhkan.